Oleh Siti Nur Halimah*

 

Berdakwah memahamkan syariat Islam secara tepat kepada umat. Untuk itu perlu pendekatan yang tepat dalam berdakwah, agar jama’ah dapat memahami ajaran dakwah dengan tepat. Apalagi saat ini, lembaga dakwah dihadapkan dengan tantangan dakwah di era globalisasi dan karakteristik masyarakat urban kota Surabaya yang berbeda dengan masyarakat di daerah (pedesaan).

Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) merancang program dakwah pada masyarakat urban dengan membentuk Majelis Dzikir Walisongo. Program ini bertujuan untuk optimalisasi kegiatan dakwah pada masyarakat perkotaan, seperti Surabaya. Dalam merancang kegiatan dakwah yang memperhatikan kebutuhan jama’ah, LDNU melakukan proses segmentasi dan memahami karakteristik jama’ah MDW. Kedepan, sesuai dengan tujuan dakwah yang dikembangkan LDNU, akan dibentuk majelis – majelis yang fokus dengan pendekatan dan materi dakwah sesuai dengan karakteristik / kebutuhan jama’ah.

Penelitian ini berupaya menganalisa tahapan segmentasi yang dilakukan manajemen LDNU terhadap jama’ah MDW, mengetahui preferensi (kecenderungan) produk yang disukai jama’ah terhadap kegiatan MDW dan pendekatan dakwah yang sesuai berdasarkan karakteristik segmen jama’ah MDW.

Teori yang digunakan adalah teori segmentasi pasar meliputi pola segmentasi, pendekatan segmentasi post-hoc serta tahapan segmentasi post-hoc. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Dari hasil penelitian menunjukkan pola segmentasi jama’ah MDW adalah segmentasi homogen (pasar ceruk) dengan karakteristik jama’ah yang menyukai produk tausiyah / ceramah agama karena menginginkan manfaat peningkatan spiritual dibandingkan dengan wawasan Islam. Mereka juga menyukai ustad atau da’i yang kompeten dalam berdakwah, pandai membawa suasana sehingga membuat jama’ah merasa lebih dekat kepada Allah. Produk lain seperti istighosah (dzikir dan doa bersama) dan penampilan hadrah tetap disukai namun cenderung bukan merupakan preferensi utama.

 

*) Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya