Oleh Trisno Kosmawijaya*

 

Masyarakat objek dakwah bukanlah masyarakat homogen melainkan masyarakat pluralis yang terdiri dari perbedaan suku, agama, rasa dan budaya. Fenomena yang terjadi saat ini adalah munculnya Gus Miftah yang berani tampil berdakwah ditempat yang bisa dikatakan tidak lazim dilakukan oleh kebanyakan da’i, yaitu berdakwah ditempat hiburan malam seperti diskotik, café, bar, dan sebagainya. Penelitian ini dimaksudkan untuk mencari jawaban tentang bagaimana Gus Miftah beradaptasi, berinteraksi, dan memaknai realitas sosial para pekerja diskotik sebagai objek dakwah.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann. Menurutnya, konstruksi sosial terhadap realitas dapat terjadi melalui tiga proses simultan, yaitu eksternalisasi, obyektivasi dan internalisasi. Adapun teknik pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam terhadap informan.

Hasil penelitian menemukan bahwa, konstruksi sosial dakwah Gus Miftah terdapat 3 temuan: (1) Eksternalisasi atau Adaptasi Diri terdiri dari dua tahap: a. Gus Miftah mulai mengawali dakwahnya dan beradaptasi di lokalisasi  Pasar Kembang di Yogyakarta. b. Proses adaptasi dakwah di diskotik yang  tidak membutuhkan waktu lama karena Gus Miftah sudah terkenal dikalangan pekerja hiburan malam dan preman di Yogyakarta. (2) Objektivasi atau interaksi sosial terdiri dari tiga tahap a. sosialisasi yaitu dengan meminta izin kepada pihak manajemen diskotik, selain itu sepak terjang dakwah Gus Miftah yang sering keluar masuk ditempat hiburan malam. b. legitimasi atau pengakuan dari pihak manajemen serta para pekerja hiburan malam menyatakan bahwa Gus Miftah adalah sosok da’i diskotik yang mampu memahami kondisi mereka. c. institutionalized atau proses kelembagaan fungsi dalam masyarakat, yaitu terjadi kesepakatan bahwa kedatangan Gus Miftah bukan sebagai penceramah atau pendakwah sehingga istilahnya bukan dakwah tetapi  mengaji bersama. (3) Gus Miftah memaknai realitas sosial para pekerja hiburan malam bukan untuk dihindari dan dijauhi akan tetapi sebagai objek dakwah yang membutuhkan pengarahan dan ajaran agama, hal ini tentunya tidak lepas dari ajaran Sunan Drajat yaitu berikanlah baju kepada orang yang telanjang, berikanlah tongkat kepada orang buta, menyapu itu ditempat yang kotor, menyalakan lampu itu ditempat yang gelap.

 

*) Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya